skip to main | skip to sidebar

RUSYAIDI'S BLOG

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Senin, 20 Desember 2010

Diposting oleh livormortis di 02.56

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
~Author Unknown
***
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.


Read more: http://www.resensi.net/meja-kayu/2009/02/#ixzz18eFki1Cb
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Diposting oleh livormortis di 02.50

Jika dilihat dari bentuknya buku itu terlihat sangat sederhana dan lusuh. Aku yakin sang pemilik selalu membawanya kemanapun ia pergi. Meskipun wujudnya lusuh dan lecek, isinya ternyata kisah-kisah tulus yang luar biasa. Sungguh seperti cermin indah diriku.

Malaikat kecil itu muridku di kelas 5 sekolah dasar. Dia sangat baik, pintar, sedikit pendiam dan suka menulis. Tapi aku tidak pernah menyangka ia akan menulis sebuah buku untukku. Buku itu dia tulis selama hampir 2 tahun, bercerita tentang semua aktivitas dikekolah, teman-teman, guru dan perasaannya. Dia menulis semua dengan bahasa yang indah dan detil, bahkan hari dan tanggal kejadiannya. Dia berniat menjadikan buku itu hadiah akhir tahun untukku dan partner guruku.

Dia memberikan buku itu menjelang hari kenaikan kelas.

Dari lembar pertama yang kubaca aku mulai menangis. Satu hal yang membuatku sangat terharu. Dia mengganti namaku dan partnerku dengan “MALAIKATKU” disemua kisah yang ia tulis.

Lembar partama buku itu tertulis : “Aku senang sekali berada di kelas 5. Terimakasih Allah Engkau memberiku 2 malaikat cantik yang selalu tersenyum untukku dan mengajariku banyak hal. Tolong lindungi dan sayangi mereka Ya Allah”

Aku membaca isi buku itu tanpa ada yang terlewatkan. Masih dengan butiran-butiran lembut yang mengalir dari mataku. Walaupun ia tak berharap balasan. Tapi aku ingin sekali membalasnya, walau tidak sebanding dengan apa yang ia berikan selama ini.

Lalu aku menulis sebuah surat untuknya:

“Wahai malaikat kecilku…

Aku mungkin tidak sehebat dan sempurna seperti malaikat impianmu. Karena

Aku hanya punya dua mata, yang dapat menatapmu hangat

Aku cuma punya satu mulut, yang hanya bisa tersenyum untukmu

Aku hanya punya dua telinga, yang sanggup mendengarkan kisah-kisahmu

Aku juga punya dua tangan kecil, yang dapat merengkuhmu kapanpun kau mau

Dan aku punya satu hati, yang menyimpanmu disudutnya yang dalam dan hangat.

Malaikat kecilku….

Terimakasih atas perhatianmu selama ini. Aku yakin suatu hari nanti kau akan jadi malaikat bagi orang-orang disekelilingmu. Kepakkan sayapmu setinggi yang kau mau. Tak perlu khawatir kau kesepian, karna hamparan bintang-bintang akan selalu menemanimu di tiap langit cakrawala”.

Keesokan harinya ia datang padaku. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata : “terimakasih ya bu, suratnya indaaah banget”. Aku menarik tubuh mungil itu dalam pelukanku : “sama-sama, tapi buku yang kamu tulis jauuh lebih indah. Terus menulis ya…”.


Read more: http://www.resensi.net/malaikat-kecil-k/2010/11/#ixzz18eELy7UY
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Diposting oleh livormortis di 02.47

Hujan rintik-rintik membasahi bumi, udara berhembus terasa segar. Seorang pemuda telah selesai menunaikan sholat dzuhur berjamaah di masjid. Pandangannya menyapu ke arah halaman masjid, tidak jauh darinya ada seorang perempuan tua yang duduk ditengah lapangan menarik perhatiannya. Tiba-tiba sebuah tas kecil dari tempat nenek itu terbang tertiup angin kencang. Segera pemuda itu memperhatikan teriakan nenek itu minta tolong, ingin tasnya diambilkan.

Merasa terpanggil pemuda itu segera berlari mengejar tas kecil, terlihat tas itu telah melesat jauh, dia berlari dengan terengah-engah kelelahan. Berlarilah pemuda itu sekuat tenaga dan tas kecil itu berhasil juga dipegangnya. Nampak keringat bercucuran, dengan hati penuh kebahagiaan dia berlari kecil mengantarkan tas kecil. Terlintas didalam hatinya lelah yang dirasakan tentunya akan disambut dengan senyuman dan ucapan terima kasih sang nenek sudah cukup sebagai balasan atas kebaikan yang telah dilakukannya.

Namun diluar didugaannya, sang nenek segera merebut tas kecil itu dan membalikkan tubuhnya dengan wajah yang cemberut, sepintas seperti marah. Pemuda terkejut bukan main. Jangankan senyuman dan ucapan terima kasih, wajah ramahpun tidak terlihat. Pemuda itu kebingungan. ‘Apa dosaku ya?’ ucapnya lirih. Dia tak bisa bergerak, malu, kesal, kecewa tercampur aduk.

Berkali-kali pemuda istighfar, siang itu dirinya menemukan pelajaran yaitu makna ikhlas. Ya tentang keikhlasan. Keikhlasan berarti tidak pernah berharap apapun, bahkan balasan walaupun berupa senyuman dari yang kita perbuat. Lakukanlah segala perbuatan baik semata-mata karena Allah. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Siang itu dihalaman masjid, pemuda itu mendapatkan pelajaran bahwa ikhlas itu indah.

‘Dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakan.’ (QS. At-Thuur : 21).


Read more: http://www.resensi.net/ikhlas-itu-indah/2010/10/#ixzz18eDUHv6V
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Kamis, 17 Juni 2010

BUAT BLOG? SIAPA TAKUT

Diposting oleh livormortis di 20.22
Blog adalah salah satu cara agar kita bisa berkreasi dan terjun dalam tulis menulis .
Tapi diantara kita juga banyak yang gak mau bikin blog, alasannya adalah takut kalo tulisannya itu jelek.
Padahal bikin blog bukan untuk menunjukkan kebodohan kita, tapi sebagai sarana kita untuk latihan tulis menulis
@da juga yang takut kalau tulisannya di ejek sama orang yang baca. Sebetulnya ini bukan alasan kita untuk gak buat blog.
Kalupun ada yang ngejek tulisan kamu tenang bang rusyaidi punya solusinya, tinggal jawab aja."tulisan saya emang gak bagus, tapi saya doakan kamu supaya bisa buat blog seperti saya. Apa gak luluh hatinya dia abis ngedenger katamu.
Kalo buat tulisannya jangan mikirin bagusnya dulu . tapi tulislah apa yang kamu pikirkan. kalo pertama kali bolehlah jelek, tapi untuk seterusnya kamu akan terbiasa nulis dengan tanpa keraguan JUST TRY IT!!!
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Senin, 14 Juni 2010

Diposting oleh livormortis di 00.49
Bapak penguasa lembaga pendidikan, berdiri didepan murid-murid dengan senyum mengembang. Bibir yang hitam akibat tembakau menambah putih giginya.
“Gigi bapak penguasa kalian patut dicontoh,..adik-adik” kata dokter gigi. Bapak penguasa yang berdiri disebelah dokter gigi, memamerkan giginya. Gigi yang putih tapi tidak berderet rapi.
“Waktu kecil, bapak tidak suka makan permen, apalagi cokelat,” kata bapak penguasa bangga. Mendengar itu, Roni Tongos mengacungkan tangannya. “Ada yang ditanyakan Roni?” Tanya bapak penguasa
“Bapakkan masa kecilnya jadul banget, memang ada yang jual permen?”. Tiba-tiba ruangan ramai oleh tawa murid-murid. Melihat murid-muridnya teryawa, bapak penguasa tidak menjawab pertanyaan Roni, bahkan melanjutkan bicaranya.
“Anak-anak mau tahu rahasianya, biar gigi kalian bagus seperti gigi saya?” Tanya bapak penguasa. Rahasia umum yang basi. Rahasia yang terdengar sama tiap tahunnya.
“Sikat gigi dua kali sehari, tiap pagi dan malam sebelum tidur. Jangan lupa kedokter gigi enam bulan sekali,” ujar murid-murid kompak. Bapak penguasa tersenyum puas mendengar murid-muridnya hafal rahasianya.
“Anak-anak mau contoh gigi yang tidak pernah dirawat sejak kecil?” tanya bapak penguasa.
“Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…………………...”jawab murid-murid.
Mendengar kata-kata contoh dari bibir hitamnya bapak penguasa, Roni Tongos dan Danang Bogang tertunduk, bersembunyi dibelakang tubuh kekar Pak Eko pengajar olah tubuh.
“Roni……Danang……..maju kedepan.!” pinta bapak penguasa. Terlihat Pak Eko menganggukkan kepalanya ketika bapak penguasa meminta tolong . Tanpa menunggu lama, kedua tangan Pak Eko langsung merangkul pundak Roni dan Danang. Langkah kaki mereka diiringi tepuk tangan dan senyuman teman-temannya.
“Kalian dipanggil kedepan bukan untuk diejek. Kalian dijadikan contoh biar gigi teman-teman kalian dirawat sejak kecil. Jangan sampai gigi mereka tidak dirawat seperti gigi kalian,” ucap bapak penguasa.
“Pak, gigi saya tongos bukan karena tidak pernah dirawat,” bantah Roni.Bapak penguasa kaget mendengar bantahan Roni. Tidak biasanya Roni berani membantah.
“Lalu kenapa Ron?” Tanya bapak penguasa
“Waktu umur empat tahun gigi susu saya lepas tapi tetapnya belum tumbuh.Baru umur enam tahun gigi tetapnya tumbuh,” ujar Roni. Dokter gigi terlihat tertarik untuk memeriksa gigi Roni.
“Kok bisa lepas dik?” tanya dokter gigi.
“Ya, waktumain bola sama Danang, kita jatuh.Gigi kita lepas,” ujar Roni meyakinkan. Rasa penasaran masih menyelimuti pikiran dokter gigi tersebut.
“Kenapa mau dipanggil Roni Tongos?”
“Biar terkenal kayak Ronaldinho, tongos tapi jago main bola,” ucap Roni. Seketika ruangan kembali riuh oleh tawa dan ejekan teman-temannya. Bapak penguasa coba mengendalikan suasana.
“Sudah……sudah…..Kalau kamu Nang? Kok bisa bogang seperti itu?” tanya bapak penguasa.
“Sama seperti Roni Pak, tapi gigi tetap saya tidak bisa tumbuh sama sekali. Kalau mau tumbuh, harus dioperasi,”ujar Danang.
Mendengar penjelasan kedua muridnya, wajah bapak penguasa menampakkan keheranan. Bapak penguasa tidak menduga, tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya. Satu kali setahun dokter gigi, satu kali pula Roni dan Danang dijadikan contoh murid yang malas merawat giginya. Mereka hanya terdiam ketika disuruh kedepan dan dijadikan contoh. Contoh untuk bahan tertawaan teman-temannya.
“Perlu dioperasi Nang?” tanya bapak penguasa.
“Bapak nggak pernah kedokter gigi?” tanya Danang.
“Waktu kecil sih…belum pernah. Tapi gigi saya lebih bagus daripada gigimu,”balas bapak penguasa. Roni yang berdiri disebelah Danang terlihat membisikkan sesuatu. Danang menahan tawa mendengar bisikan Roni. Benar kata Roni, bapak penguasa itu masa kecilnya jadul banget, mana ada dokter gigi, yang ada dukun gigi.
Merasa jadi bahan tertawaan kedua muridnya, bapak penguasa mengarahkan pandangannyake dokter gigi. Penjelasan dari Roni dan Danang tadi menimbulkan rasa ingin tahu, benar apa tidak yang dikatakan mereka.
“Benar kata mereka dok?” tanya bapak penguasa.
“Benar pak,” kata dokter gigi. Pada usia enam sampai dua belas tahun gigi susu akan digantikan gigi tetap. Bila gigi susu lepas sebelum waktunya sedangkan posisi benar gigi tetapnya masih jauh, itu tidak dapat menyebabkan gigi sebelumnya bergeser dan mengisi ruang kosong tersebut. Ada dua kemungkinan bila gigi tetap sudah waktunya tumbuh:
1. Dapat tumbuh tapi tidak pada tempatnya (lebih kedepan atau lebih kebelakang dari yang sehrusnya) dan akan tampak seperti gigi bertumpuk.
2. Tidak dapat tumbuh sama sekali. Dan untuk mengeluarkannya, diperlukan operasi kecil.
Penjelasan dokter gigi tersebut membuat bapak penguasa malu. Dia merasa pengetahuan tentang gigi susu kurang dibanding Roni dan Danang.
“Terima kasih dok atas penjelasannya…..anak-anak antri ya…….biar lancar memeriksanya,” pinta bapak penguasa mengakhiri bicaranya.

Telepon rumah Roni berdering. Terdengar suara bunda Ani.
“Ron bagaimana periksa giginya? Kamu jadi bahan tertawaan lagi?” tanya bunda Ani.
“Iya sih bunda……..tapi Roni jadi lebih percaya diri. Tiap orang tanya kenapa giginya tongos, Roni punya jawabannya. Nggak sia-sia Roni ke warnet,” ujar Roni bangga.
“Bagus Roni…….itu baru anak bunda. Gigi tongos bukan karena tidak pernah dirawat, tapi karena keturunan,” kata bunda Ani.
Sore itu Roni dan Danang bersiap-siap menuju lapangan untuk main bola. Sepak bola yang menyebabkan gigi susu Danang lepas, bukan gigi susu Roni.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Selasa, 30 Maret 2010

PERJUANGAN DI LAHAN PEMBENTUKKKAN KARAKTER

Diposting oleh livormortis di 02.07
Hidup di dunia ini memang tidak semudah menekan tuts tombol di keyboard ini.
Maka yang akan menentukan apa jadinya kita adalh diri kita sendiri. tinggal kita yang memilih apa kita menjadi orang yang produktif atau orang yang konsumtif.
Orang yang konsumtif adalah orang yang hanya bisa menggantungkan dirinya dengan orang lain.
Maka dipondok ini aku dibentuk dengan segala rutintas yang aku jalani.
Aku dituntut menjadi orang yang bisa berkreasi.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Senin, 29 Maret 2010

SISI POSITIF DARI SEGALA SESUATU

Diposting oleh livormortis di 16.17
Semua yang ada di dunia ini terbagi menjadi dua bagian. yang pertama adlah produsen dan juga konsumen.
Walaupun keduanya saling bergantungan satu sama lain, tapi keduanya mempunyai perbedaan, yangprodusen memenuhi kebutuhan konsumen, dan konsumen membutuhkan produsen.
Manusiapun dibagi menjadi dua. yaitu manusia yang produktif dan juga konsumtif .
Orang yang produktif selalu memanfaatkan apa yang dimilikinya.dan dia memberikan manfaat bagi orang lain.
Adapun orang yang konsumtif tidak dapat memberikan manfaat bagi selainnya. dia selalu memanfaatkan apa yang dimilikinya bagi dirinya sendiri,
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

Free Blog Content

Mengenai Saya

Foto saya
livormortis
BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN, Indonesia
AZHAR RUSYAIDI adalah seorang pelajar yang sedang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di ponorogo. yaitu gontor
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2010 (7)
    • ▼  Desember (3)
      • Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tingga...
      • Jika dilihat dari bentuknya buku itu terlihat san...
      • Hujan rintik-rintik membasahi bumi, udara berhemb...
    • ►  Juni (2)
    • ►  Maret (2)
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com