Senin, 20 Desember 2010
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
~Author Unknown
***
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
Read more: http://www.resensi.net/meja-kayu/2009/02/#ixzz18eFki1Cb
Jika dilihat dari bentuknya buku itu terlihat sangat sederhana dan lusuh. Aku yakin sang pemilik selalu membawanya kemanapun ia pergi. Meskipun wujudnya lusuh dan lecek, isinya ternyata kisah-kisah tulus yang luar biasa. Sungguh seperti cermin indah diriku.
Malaikat kecil itu muridku di kelas 5 sekolah dasar. Dia sangat baik, pintar, sedikit pendiam dan suka menulis. Tapi aku tidak pernah menyangka ia akan menulis sebuah buku untukku. Buku itu dia tulis selama hampir 2 tahun, bercerita tentang semua aktivitas dikekolah, teman-teman, guru dan perasaannya. Dia menulis semua dengan bahasa yang indah dan detil, bahkan hari dan tanggal kejadiannya. Dia berniat menjadikan buku itu hadiah akhir tahun untukku dan partner guruku.
Dia memberikan buku itu menjelang hari kenaikan kelas.
Dari lembar pertama yang kubaca aku mulai menangis. Satu hal yang membuatku sangat terharu. Dia mengganti namaku dan partnerku dengan “MALAIKATKU” disemua kisah yang ia tulis.
Lembar partama buku itu tertulis : “Aku senang sekali berada di kelas 5. Terimakasih Allah Engkau memberiku 2 malaikat cantik yang selalu tersenyum untukku dan mengajariku banyak hal. Tolong lindungi dan sayangi mereka Ya Allah”
Aku membaca isi buku itu tanpa ada yang terlewatkan. Masih dengan butiran-butiran lembut yang mengalir dari mataku. Walaupun ia tak berharap balasan. Tapi aku ingin sekali membalasnya, walau tidak sebanding dengan apa yang ia berikan selama ini.
Lalu aku menulis sebuah surat untuknya:
“Wahai malaikat kecilku…
Aku mungkin tidak sehebat dan sempurna seperti malaikat impianmu. Karena
Aku hanya punya dua mata, yang dapat menatapmu hangat
Aku cuma punya satu mulut, yang hanya bisa tersenyum untukmu
Aku hanya punya dua telinga, yang sanggup mendengarkan kisah-kisahmu
Aku juga punya dua tangan kecil, yang dapat merengkuhmu kapanpun kau mau
Dan aku punya satu hati, yang menyimpanmu disudutnya yang dalam dan hangat.
Malaikat kecilku….
Terimakasih atas perhatianmu selama ini. Aku yakin suatu hari nanti kau akan jadi malaikat bagi orang-orang disekelilingmu. Kepakkan sayapmu setinggi yang kau mau. Tak perlu khawatir kau kesepian, karna hamparan bintang-bintang akan selalu menemanimu di tiap langit cakrawala”.
Keesokan harinya ia datang padaku. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata : “terimakasih ya bu, suratnya indaaah banget”. Aku menarik tubuh mungil itu dalam pelukanku : “sama-sama, tapi buku yang kamu tulis jauuh lebih indah. Terus menulis ya…”.
Read more: http://www.resensi.net/malaikat-kecil-k/2010/11/#ixzz18eELy7UY
Hujan rintik-rintik membasahi bumi, udara berhembus terasa segar. Seorang pemuda telah selesai menunaikan sholat dzuhur berjamaah di masjid. Pandangannya menyapu ke arah halaman masjid, tidak jauh darinya ada seorang perempuan tua yang duduk ditengah lapangan menarik perhatiannya. Tiba-tiba sebuah tas kecil dari tempat nenek itu terbang tertiup angin kencang. Segera pemuda itu memperhatikan teriakan nenek itu minta tolong, ingin tasnya diambilkan.
Merasa terpanggil pemuda itu segera berlari mengejar tas kecil, terlihat tas itu telah melesat jauh, dia berlari dengan terengah-engah kelelahan. Berlarilah pemuda itu sekuat tenaga dan tas kecil itu berhasil juga dipegangnya. Nampak keringat bercucuran, dengan hati penuh kebahagiaan dia berlari kecil mengantarkan tas kecil. Terlintas didalam hatinya lelah yang dirasakan tentunya akan disambut dengan senyuman dan ucapan terima kasih sang nenek sudah cukup sebagai balasan atas kebaikan yang telah dilakukannya.
Namun diluar didugaannya, sang nenek segera merebut tas kecil itu dan membalikkan tubuhnya dengan wajah yang cemberut, sepintas seperti marah. Pemuda terkejut bukan main. Jangankan senyuman dan ucapan terima kasih, wajah ramahpun tidak terlihat. Pemuda itu kebingungan. ‘Apa dosaku ya?’ ucapnya lirih. Dia tak bisa bergerak, malu, kesal, kecewa tercampur aduk.
Berkali-kali pemuda istighfar, siang itu dirinya menemukan pelajaran yaitu makna ikhlas. Ya tentang keikhlasan. Keikhlasan berarti tidak pernah berharap apapun, bahkan balasan walaupun berupa senyuman dari yang kita perbuat. Lakukanlah segala perbuatan baik semata-mata karena Allah. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Siang itu dihalaman masjid, pemuda itu mendapatkan pelajaran bahwa ikhlas itu indah.
‘Dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakan.’ (QS. At-Thuur : 21).
Read more: http://www.resensi.net/ikhlas-itu-indah/2010/10/#ixzz18eDUHv6V
Langganan:
Postingan (Atom)




